Inovasi BKD
Pejabat Struktural
  • Nafiul Huda, S.Sos, M.Si

    Kepala BKD

  • <
  • David P W W, S.Kom

    Kabid Penilaian Kinerja Aparatur dan Penghargaan

  • SANDI DIAN ERVANI, SE

    Kabid Pengadaan, Mutasi dan Data Pegawai

  • Drs. Mukhlisin

    Kasubbid Mutasi Pegawai

  • Ikwan Andoyo, SH

    Kasubbid Diklat Penjenjangan

  • Wihariyanto, SE

    Kasubbid Diklat Teknis Fungsional

  • Masrul, S.AP

    Kasubbag Keuangan dan Perlengkapan

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KABUPATEN BANYUWANGI
Written by Super User
Category: BERITA
Published: Friday, 05 February 2021 08:56

BANYUWANGI  – Pakar manajemen dan guru besar ekonomi Universitas Indonesia, Profesor Rhenald Kasali, memaparkan strategi Pemkab Banyuwangi dalam mewujudkan prosperity (kesejahteraan) daerahnya. Hal ini disampaikan dalam bedah buku Prof Rhenald yang terbaru, ”Road To Prosperity: Mobilisasi dan Orkestrasi ala Banyuwangi”, secara daring, Rabu pagi (3/1/2021).

Menurut Rhenald, keberhasilan Banyuwangi dalam membangun kinerja sosial-ekonomi terletak pada upayanya menerapkan pull strategy (strategi menarik), bukan menggunakan push strategy (strategi mendorong). Push strategy sendiri merupakan program yang menekankan pada penyelesaian masalah secara top down (dari atas ke bawah) . Seperti halnya subsidi, bansos atau event-event nasional yang tidak berkesinambungan. 

Sedangkan Pull Strategy lebih menekankan penyelesaian permasalahan dengan melibatkan banyak pihak dan berangkat dari bawah. Sehingga bisa menciptakan ekosistem yang akan menarik prosperity-nya itu sendiri. 

Dua strategi tersebut, oleh Rhenald, diumpamakan seperti orang yang ingin melihat binatang. Ada yang ingin melihat di kebun binatang, ada pula yang menyaksikan di alam liar. Jika menaruh hewan di kebun binatang, maka harus menyiapkan kandang dan makanannya. Jika tak diberi makan, hewan tersebut akan mati kelaparan. Itulah yang disebut pull strategy. Padahal, sejatinya, hewan-hewan di kebun binatang itu memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. 

Sedangkan jika menggunakan push strategy, lanjut Rhenald, tidak perlu memberi makan hewan-hewan liar tersebut. Cukup dengan menanam pohon, maka akan menjadi hutan yang akan dihuni oleh hewan-hewan tersebut. Di sana, segala sumberdaya akan muncul dengan sendirinya. Pemandangan hewan tetap bisa dinikmati, tanpa harus repot menyiapkan kandang dan sebagainya.

“Apa yang dilakukan Bupati Azwar Anas di Banyuwangi selama ini, ibarat menanam pohon tersebut. Apa pohonnya? Pohonnya ya pariwisata. Masyarakat dipaksa bergerak di satu titik. Dari sana lantas muncul ekosistem untuk membangun prosperity Banyuwangi itu sendiri,” tegas Founder Rumah Perubahan tersebut.

Dari pariwisata tersebut, menjadi payung untuk mewujudkan kesejahteraan. Yang mana kesejahteraan yang diinginkan di Banyuwangi itu meliputi kemudahan akses pendidikan, kemudahan mencari lapangan kerja, jaminan kesehatan, jaminan keamanan, dan kondisi sosial politik yang stabil.

Salah satu yang dicontohkan oleh Rhenald adalah pengelolaan Bandara Banyuwangi. Banyak daerah yang ingin menghidupkan bandaranya dengan memberi subsidi maskapai penerbangan. Namun, di Banyuwangi tidak demikian. Banyuwangi justru mensubdi rakyat untuk membuat pertujukan kolosal yang bisa mengundang wisatawan.

“Contohnya adalah Festival Gandrung Sewu. Acara ini melibatkan rakyat banyak, dan terbukti bisa mengundanghadirkan banyak wisatawan dari luar kota,” ungkapnya.

Ada banyak contoh yang lain bagaimana Banyuwangi melakukan mobilisasi dan orkestrasi untuk membangun kesejahteraan sosial-ekonomi daerahnya. Seperti halnya pemberantasan angka kemiskinan dengan program rantang kasih yang melibatkan stakeholder terkait, warung makan hingga badan amil zakat. Adapula pemberantasan buta aksara yang mengajak seluruh elemen terlibat.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang mengikuti sesi bedah buku tersebut, menjelaskan, pariwisata dipilih sebagai penggerak ekonomi karena memiliki dampak yang luas. ”Pariwisata di depan sebagai penggerak, tapi ingat, pendidikan, kesehatan, pertanian, dan pelayanan publik tetap menjadi sektor yang menerima anggaran terbesar,” ujar Anas.

Dengan pariwisata, lanjut Anas, akan menjadi ajang konsolidasi, tidak hanya ekonomi, namun juga sosial politik. 

“Seringkali saya mencontohkan Saudi Arabia. Negara ini kaya dengan minyak dan orang antri untuk datang kesana melaksanakan umroh dan haji. Namun, tetap mengembangkan pariwisata. Karena tujuannya tidak hanya soal uang, tapi bagaimana melakukan konsolidasi, membangun kebanggaan, ekspresi kreativitas,” terangnya.

Dengan beragam konsolidasi tersebut, imbuh Anas, kesejahteraan yang diharapkan tumbuh di bisa terwujud cepat. “Meski tidak mudah, insyallah apa yang telah kita lakukan ini telah bisa kita rasakan saat ini,” pungkasnya.

Acara bedah buku itu sendiri didukung penuh oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. Tidak hanya membedah buku dari Rhenald Kasali, namun juga membedah dua buku lain yang ditulis oleh Anas. Dua buku yang didedikasikan sebagai catatan akhir purna baktinya sebagai bupati Banyuwangi itu, berjudul Creative Colaborative dan Anti Mainstream Marketing. 

Hadir sejumlah pihak yang turut menyampaikan pandangannya dalam bedah buku tersebut. Di antaranya Kepala LAN RI Adi Suryanto, Kepala Balitbang Kemendagri Agus Fatoni, Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta Nurliah Nurdin, Deputi Bidang Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara LAN RI Tri Widodo Wahyu Utomo, serta Menteri Pariwisata RI 2014-2019 Arief Yahya. (*)

 

4451611
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
233
785
7941
4433566
6485
36941
4451611

Your IP: 192.168.253.66
2021-03-07 07:20