Saturday the 22nd - Badan Kepegawaian dan Diklat - Hostgator Coupon
  • Pelayanan Satu Pintu

  • Pelatihan Aplikasi di Ruang CAT

  • Banyuwangi Festival 2017

  • Inovasi BKPP Kabupaten Banyuwangi

  • Kunjungan Kepala BKN

Misalnya saja indeks daya saing global di peringkat 37 dari 140 negara, di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand yang menduduki peringkat ke-2, ke-18, dan ke 32.

“Daya saing kita dinilai rendah, tapi kita sendiri belum pernah mengukurnya, apakah benar begitu. Untuk itu kita ingin mengukur profesionalisme ASN, agar tahu apa yang harus dilakukan kalau masih rendah dan apabila sudah tinggi berarti indeks internasional harus dikoreksi,” kata Bima. Workshop tersebut diikuti Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) kabupaten/kota se Jawa Timur.

Bima melanjutkan, workshop ini dilakukan untuk membekali peserta tentang tata cara dan metodologi pengukuran indeks profesionalitas ASN. Nantinya hasil dari pengukuran indeks ini bisa memetakan daerah mana yang indeksnya tinggi dan mana yang indeksnya rendah, sehingga intervensi yang diambil bisa tepat.

“Dengan indeks yang terukur, kita jadi tahu bagaimana cara menjembatani kekurangan yang ada. Ini memang program baru, maka kami masih melakukan sosialisasi. Harapan kami seluruh daerah bisa menerapkan pengukuran indeks ini kepada para aparatur birokrat daerah masing-masing,” ujarnya.

Beberapa indikator penilaian indeks profesionalitas ASN, kata Bima di antaranya penilaian kompetensi, background pendidikan, tingkat kinerja, pendidikan dan pelatihan yang pernah diikuti, dan kedisiplinan. “Selain itu juga akan ada indikator penilaian sejauh mana orientasi ASN dalam memberikan motivasi dan memobilisasi unit kerjanya,” kata Bima.

Diluar indikator penilaian tersebut, Bima juga menegaskan pentingnya peran pemimpin daerah dalam memberikan energi positif kepada para aparatur birokrasinya. “Pemimpin sendiri memiliki peran yang besar dalam menciptakan birokrasi yang profesional. Bagaimana kepemimpinannya mampu memberikan leadership yang bisa mengakomodir setiap ASN hingga bisa membangun kerja tim,” urainya.

Sementara itu Bupati Abdullah Azwar Anas menyambut baik kegiatan workshop indeks profesionalitas ASN yang diselenggarakan di Banyuwangi. Anas sendiri selama ini terus mendorong kinerja aparatur daerah untuk bekerja dengan profesional dan terukur hasilnya. “Apa yang kami lakukan selama ini salah satunya penyelenggaraaan Banyuwangi Festival bukan sekedar untuk menarik wisatawan, tapi sebagai alat konsolidasi aparatur daerah bisa bekerjasama sebagai sebuah teamwork, yang mampu mengikis ego sektoral. Dengan begitu kerja aparatur akan lebih profesional karena memiliki orientasi yang sama dan lebih besar demi kepentingan rakyat,” kata Anas.

Banyuwangi festival merupakan rangkaian event wisata tahunan yang telah digelar sejak 2012, di mana oada tahun 2016 menampilkan 53 even. Para penyelenggara even ini, 75 persen ditangani oleh para birokrat Banyuwangi. Selain itu, lanjut Anas, untuk mendorong profesionalitas juga telah diterapkan tunjangan kinerja bagi karyawan Pemkab. Tunjangan ini akan berbanding lurus antara tingginya aktifitas kerja dan penghasilan yang didapatkan.

“Ini berbasis merit system, dimana siapa yang berprestasi maka dia yang akan mendapatkan hasil lebih. Selain itu juga ada uang lembur dan tunjangan mobilitas, harapan kami bisa mendorong kerja ASN semakin baik,” pungkas Anas.(Humas)